18 March 2009

Sedikit Cerita si Sumber Cahaya

IMG_0534Terima kasih pada Thomas Alfa Edison, penemu filamen untuk lampu yang tahan lama pada 1879. Lampu jenis ini disebut incandescent, memendarkan warna kuning dari gas argon (atau gas lain) yang ada di dalamnya. Desain lampu jenis ini tidak banyak berubah dibandingkan saat pertama kali ditemukan. Meski tak selalu berbentuk bola, kita di Indonesia sering menyebutnya bohlam… :)

 


Compact Fluoroscent Lamp Ada jenis lampu lain yang disebut fluoroscent, memendarkan warna putih. Lampu ini hemat energi, butuh listrik sedikit untuk menghasilkan intensitas cahaya yang sama dengan lampu incandescent. Namun ada kekurangannya, lampu fluoroscent mengandung merkuri yang berbahaya bagi manusia.

 


Aku merasa ada perbedaan soal lampu saat pertama kali datang di Swedia. Sebagian besar lampu yang mereka gunakan di sini adalah lampu incandescent! Hampir tiap ruangan di dalam rumah maupun di kampus memakai lampu bercahaya kuning itu. Jarang kutemui lampu ‘neon’ seperti di Indonesia di dalam rumah. Lampu putih dipakai di tempat khusus seperti laboratorium atau pusat perbelanjaan.

Rasa penasaran itu buat aku mencari tahu, ada apa di balik kisah si bola lampu? Selidik punya selidik, aku mendapat beberapa informasi yang cukup memuaskan rasa ingin tahuku. Ini dia.

Sebagian besar listrik yang masuk ke lampu ‘kuning’ berubah jadi panas.

Hampir sepanjang tahun suhu udara Swedia dingin, terlebih di musim dingin! Lampu ini ternyata punya peran ganda, sebagai penerang dan penghangat ruangan.

  Banyak orang merasa warna kuning lebih ‘hangat’ dan buat suasana jadi nyaman. Pun dia bebas dari kedip-kedip (blinks) yang sering ada pada lampu ‘putih’. Ternyata, lampu incandescent ini dipakai karena alasan estetika, psikologis, dan juga fisiologis. 

  Swedia punya kecukupan pasokan energi listrik.

Mereka tak akan kekurangan listrik hanya karena semua orang menggunakan lampu jenis ini. Namun, bagaimanapun, masyarakat Eropa dan seluruh dunia kini dianjurkan menghemat energi lewat mengganti lampu mereka.

  Lampu ‘kuning’ ini tak mengandung merkuri.

Resikonya relatif lebih kecil dari lampu fluoroscent. Namun, masih ada logam berat yang dapat mencemari lingkungan dalam lampu ini.

Di samping beberapa informasi tersebut masih ada cerita menarik tentang perlampuan. Kita harus bayar lebih mahal saat membeli sebuah lampu di Swedia. Mengapa? Seorang teman menjelaskan bahwa kita juga harus membayar  biaya penanganan dan daur ulang lampu tersebut! Tempat pembuangan lampu yang sudah rusak pun terpisah. Pihak yang bertanggung jawab untuk menangani limbah lampu-lampu itu adalah produsennya sendiri, dan konsumen membayar biaya operasional mereka.

Bagaimana dengan limbah lampu di Indonesia? Aku rasa hingga kini lampu bekas belum ditangani dengan baik. Padahal sebagian besar lampu di kota adalah lampu fluoroscent yang mengandung merkuri. Saat lampu itu pecah di tempat yang tidak seharusnya, logam-logam berat di dalamnya bisa masuk ke air tanah. Hal ini tentu dapat membahayakan kesehatan manusia di sekitarnya. Mungkin ini dapat dijadikan topik penelitian bagi teman-teman atau adik tingkat yang tertarik?

Sumber foto lampu fluoroscent: http://en.wikipedia.org/wiki/File:Energiesparlampe_01_retouched.jpg

01 March 2009

First time ever: SKI OVER THE FROZEN LAKE!

It was February 21 Mas Kompiang took me to come with him to Derek, his professor, place outskirt of Göteborg. Snow fell quite much that days, the lakewater had frozen into thick ice. Mas Kompiang is a PhD student at Chalmers now. He is working his thesis now on catalytic membrane in the Chemical Reaction Engineering Department. He is the man who makes me have an opportunity to ski.

Nice-professor-and-nice-student

Pose-dulu-sblm-pergi

Derek lent their family’s ski outfit and equipments to me and Mas Kompiang. I got to wear one additional sweater, waterproof trousers, and professional thick long ski socks. Then Helena, Derek’s wife, said that in the middle of the lake there were area for skating. Then, we brought also the skate shoes.

This is my picture before leaving Derek’s house. We walked to the site since it is near enough. The snow in the street was about 10 cm thick that time.

 

Ayo-ganti-sepatu

As we came to that lake, I changed into the ski shoes. It is special shoes with metal bar in front of it, so it can perfectly fit into the ski board. Brrr! It’s so cold when the wind blew and got into my feet.

Come-on-boy,-you-can-do-it

 

 

Derek patiently taught me how to slide on that thin long wooden board. He walked beside us and told when to slide and how to use our hands and sticks to push the ice and go forward.

 

Falling-down-again Great! It felt great even when I fell down on my bottom first! Hahaha, I went down nearly or more than 20 times that day… To fall is to learn, isn’t it?

Dibantu-pakai-sepatu-skate

When we got to the skating area (it is a small area where the snow have been scraped), Derek and Helena asked me to try. I said, “It would be nice!” So they helped me to change shoes. They are so kind and warm people! This is my first time ever to skate, and I’m happy to be with these people. 

I had to wear helmet to ensure my safety. Yeah, skate basicly and clearly is more dangerous than ski. That thin metal blade can lead us very fast into trouble when we slip!

Belajar-jalan-lagi,-hehe

Menikmati-hangatnya-coklat-dan-muffin

Helena and her husband grasped each of my arms as I learned to walk. It was very hard to be in balance. I slip down few times, fortunately they helped me to stand still. After finished skating we went to lakeside, Helena had brought some muffins she made herself, blueberry tea, and hot chocolate drink. Hmmm…. surely an unforgettable experience! Tack så mycket för Mas Kompiang, Derek, Helena, Linea, and Oscar! (Linea and Oscar are their children). Tack så mycket!

Hihi,-asyik-banget

05 February 2009

Nice Laboratory Mess…

Aku bekerja di salah satu laboratorium di departemen teknik kimia Chalmers Tekniska Högskola. Lab ini kecil tapi lengkap dan keren. Mengapa kubilang keren? Karena peralatannya modern dan keamanannya dirancang dengan baik. Ini foto lab dari pintu masuknya. Lab1

Ada komputer yang bisa dipakai, namun tak pernah kami gunakan. Masih banyak komputer di ruangan sebelah yang sudah ada koneksi internetnya, jadi kami pakai yang itu.

Lab2

Neraca, pipet, alat gelas seperti erlenmeyer dan beaker cukup lengkap. Mikropipet atau pipettor mulai dari 10 mikroliter ada di sini.

Lacinya nyaman untuk dipakai dan di dalamnya banyak manual procedure penggunaan alat di sini.

Lab3

Bahan kimia dan reagen-reagen cukup lengkap dan bisa kami gunakan dengan nyaman. Lemarinya kuat, bisa menahan berat begitu banyak botol yang isinya penuh.

Namun bagaimanapun, laboratorium itu adalah tempat kerja, jadi bisa terjadi apapun di sana, penemuan penting, kekacauan, berantakan, maupun ledakan. Ini salah satu contohnya.

Lab4

Kami nggak tahu sebelumnya bila plastik ini tidak tahan disterilisasi. Suhu uap air jenuh pada tekanan 1 bar tentunya lebih dari 100 derajat Celcius. Jadilah rak plastik yang baik ini tak karuan bentuknya… Tapi, kalau dilihat lagi, sebenarnya bagus ya?

Lalu pada suatu hari aku mendidihkan sampel dalam larutan asam sulfat 3%, aku pakai tabung erlenmeyer yang disambung dengan reflux condenser.

Lab6

Nah, beginilah bentuknya. Aku tak sadar kalau erlenmeyer yang kami gunakan itu bukan kaca Pyrex atau Duran yang tahan panas.

Aku duduk menungguinya mendidih, sebab aku harus menghitung waktunya.

Tak kusangka, erlenmeyer itu pecah! Daarr! Cairan asam encer mendidih itu muncrat dan mengenai barang-barang di sekitarnya, termasuk aku.

Aku langsung mencuci muka dan tanganku di wastafel yang ada di sana. Kubuka jas labku yang basah terkena air panas itu. Gambar di atas itu kenangan setelah kami membersihkan semua kekacauan sore itu.

Lab5

Beruntungnya aku selamat dan tidak mengalami luka apapun. Terima kasih Tuhan telah melindungiku. Lain kali aku akan lebih berhati-hati. :)

02 February 2009

My room


Inilah kamarku...
Ada lemari tapi ndak ada gantungan bajunya, hehe, jadi tiap kali harus lipat baju.
Untung dapat meja kerja n lampu belajar (yang belum ada lampunya, hehe) yang luas. Jadi leluasa kalo mau nulis ato kerja pake komputer.
Pas musim dingin gini udara di luar bisa sampe minus, untung ada pemanas ruangan. Tuh, bentuknya garis2 pas di bawah jendela... Kalo dari luar kedinginan duduk di sana nyaman banget...
Selimut di tempat dingin kayak gini tuh tebel, bahannya dacron deh sepertinya, trus dikasih sarung... kalo ndak dikasih nanti listrik statiknya bikin baju n rambut kita 'nyetrum', hehe
Lampu di sini pakai yang kuning (bohlam) bukan yang putih dan hemat energi itu... Jadi ruangannya jadi kesannya 'cozy' gitu, hehe. Kata orang juga karena lampu yg kuning itu panas pas bgt untuk daerah dingin. Kalo menurutku lampu hemat energi yang pake merkuri itu berbahaya dan mereka menjauhinya, hehe.
Kami dapat flat (bahasa Swedianya läg) yang punya dapur dan kamar mandi dalam, jadi ndak berbagi seperti apartemen yang lain. Ada apartemen yang berbagi satu dapur untuk 8 kamar, jadi kalo masak harus gantian. Gimana kalo udah laper banget ya? Hehe... terpaksa makan roti dan makanan dingin lainnya...
Sewa apartemen ini sebulannya 4.076 SEK (swedish kronor), itu setara dengan hampir 6 juta rupiah. Biaya itu udah termasuk internet, limitnya 15 GB/HARI! dan TV kabel. Air panas dan listrik semua udah termasuk.
Tapi, udara di Göteborg ini termasuk kering, jadi kita harus selalu pake pelembab kulit n bibir, terutama sebelum tidur. Kalo lupa, paling2 kulit tangan dan bibir terasa kering sekali. Juga harus minum banyak sebelum tidur biar tenggorokan ndak kering abis...

Sekian dulu tulisanku ttg kamar ini, kamar yang menampungku pertama kalinya di negara orang Viking ini...

Posted by Picasa

05 December 2008

Aku Mau Jadi Petani

Bagaimana judul tulisanku? Sudah menjelaskan isinya kan. Jadi aku berhasil membuat judul yang baik kali ini. Terima kasih untuk pujiannya. Hahaha.

Sudah lama aku ingin memiliki pertanian terpadu. Di sana akan ada pertanian sayur dan buah-buahan, serealia dan umbi-umbian, kacang-kacangan. Kolam ikan dan kandang ayam menjadi satu bagian dari sisi pertanian itu. Kambing dan sapi yang gemuk-gemuk dan menghasilkan susu setiap hari pastinya menjadi bagian tak terpisahkan dari pertanian yang kuimpikan ini. Dalam pertanian terpadu ini aku ingin ada perputaran biomassa yang membentuk siklus yang baik. Ternak makan rumput dan limbah pertanian yang dapat mereka makan. Kotoran dan kencing mereka akan dijadikan pupuk yang sangat baik bagi kesuburan tanah media tumbuh tanaman. Baik sekali bila kotoran dapat dimanfaatkan terlebih dahulu untuk menjadi biogas yang menjadi bahan bakar. Ingin sekali aku mewujudkan impianku untuk memiliki pertanian terpadu.

Apakah pertanian terpadu yang kuharapkan itu akan dikelola secara alamiah atau organik? Ide itu tidak kupikirkan saat awal aku bermimpi, namun datang di tengah perjalanan. Di masa ini konsep dan produk pertanian organik semakin nyata. Apa keuntungan dan kerugiannya, serta tantangan yang dihadapi saat ingin bertani organik. Semua informasi yang kudapatkan dari bertani organik membuatku semakin ingin untuk memiliki pertanian organik yang terpadu. Ya, aku semakin ingin jadi petani.

Ibuku lahir di keluarga petani di Tanah Karo, Sumatra Utara. Nenekku dan keluarga besarnya bertani untuk penghidupan, begitu juga dengan sebagian besar masyarakat di sana. Meski ibuku meninggalkan tanah kelahirannya untuk kuliah di Jawa dan akhirnya menetap, ia tidak pernah kehilangan budayanya sebagai petani. Aku merasa itulah yang akhirnya meresap ke dalam jiwa anak-anaknya, sehingga kami bertiga mendalami bidang pertanian. Ibuku lebih memilih tinggal di rumah yang kecil dan terpencil tapi memiliki lahan untuk bertanam daripada rumah besar di kota yang tak dapat ditanami.

Kemarin kusampaikan ide itu pada ibuku. Ibu, atau biasa aku memanggilnya Mama, menanggapinya dengan sesuatu yang tidak kuharapkan pada awalnya. Mama berkata jangan jadi petani, apalagi petani organik. Mama bertani untuk waktu yang lama dan merasakan bila menjadi petani itu sulit dan banyak tantangannya, apalagi bertani secara organik. Aku sudah belajar banyak di bidang pengolahan pangan dan hasil pertanian jadi lebih baik aku fokus ke pengolahan hasil pertanian saja. Tidak usah aneh-aneh untuk mau jadi petani.

Aku menyadari maksud Mama mengatakan itu kepadaku. Bertani itu butuh modal, apalagi pertanian terpadu dan organik pula. Di tengah zaman saat semua orang memakai pupuk sintetik dan pestisida berbahaya, bertani organik seperti berenang melawan arus. Untungnya sekarang sudah banyak teman yang mulai berani berenang melawan arus, atau minimal mengumpulkan keberanian untuk itu. Aku bersyukur punya teman seperjuangan si Bambang, dia lebih dulu tertarik untuk gerakan tani organik, bahkan akan menjadikan penelitian gerakan tani organik sebagai bahan skripsinya. Bertani itu sulit untuk jadi orang kaya. Yah, bila yang dimaksud adalah kaya uang mungkin memang butuh perjuangan, tapi aku melihat bertani lebih dari sekedar pekerjaan untuk mendapat uang. Bertani memiliki makna yang lebih dalam, berhubungan baik dengan alam, dan berhubungan baik dengan Tuhan. Kita lihat betapa besar perhatian gereja, baik Katolik maupun Kristen Protestan, terhadap pertanian dewasa ini.

Aku mencoba meyakinkan Mama tentang itu semua. Akhirnya aku didukung dan diizinkan untuk bertani, asalkan petani bukan menjadi profesi utamaku. Aku bilang terima kasih dan bersyukur atas dukungannya. Bagaimanapun, semua yang kutulis ini merupakan idealisme atau mimpi. Semua masih bisa berubah. Namun demikian, aku minta pada semua orang yang membaca ini, supaya suatu saat melihatku meninggalkan keinginan menjadi petani, tolong ingatkan aku lagi. Aku juga mengajak semua orang yang baca tulisanku ini untuk membuka dirinya terhadap kemungkinan untuk ikut serta jadi petani di masa depan.

02 December 2008

Aikido, Jalan Tanpa Kekerasan

April 2008 adalah awal aku datang secara langsung melihat orang berlatih di sebuah dojo aikido. Dojo itu adalah dojo kampus UGM yang saat itu masih bertempat di Fakultas Ilmu Budaya UGM. Tentu aku datang karena tertarik untuk mengetahui apa itu aikido, tapi berlaku pula hal sebaliknya. Karena aku datang malam itu aku jadi tertarik. Katakan saja aku terkesima melihat koordinasi gerakan yang anggun, seperti sebuah tarian, yang efektif untuk melindungi diri dari serangan ganas yang datang. Malam itu juga aku memutuskan untuk bergabung dan akan berlatih aikido.
Apa itu aikido? Mari kita coba memahaminya dari arti kata "aikido" sendiri. Ai berarti keselarasan atau harmoni, Ki berarti energi (atau chi atau prana atau chakra, banyak sebutannya), dan Do berarti jalan atau cara hidup. Bila disusun maka arti kata aikido adalah "Jalan untuk Hidup dalam Keselarasan Energi". Dan itulah yang kami lakukan dalam latihan dan keseharian kami di dojo.

Mengapa aku memilih aikido, bukan beladiri lain yang lebih terkenal?
Aikido adalah seni mempertahankan diri yang murni, aikido memahami bahwa seseorang yang diserang memiliki hak (dan tentu memiliki dorongan instingtif) untuk mempertahankan dirinya dari serangan itu. Sekarang pertanyaannya, bagaimana ia mempertahankan diri? Ini bergantung pada tingkat perkembangan kepribadiannya.
Bila seseorang masih berada pada tingkat primitif - secara mental dan fisik - dia mungkin bereaksi secara liar, dan sering tidak efektif; dia tidak memiliki kesiapan apapun sehingga dia mungkin mencoba melukai lawannya dengan cara apapun yang dapat dia pikirkan saat itu. Atau, bila ini seseorang yang ahli dalam beladiri yang mematikan, dia mungkin dengan darah dinginnya akan melukai bila tidak sampai membunuh penyerangnya itu.
Dengan aikido, serangan brutal dan tak adil dapat dinetralisir dengan halus dan cepat, dengan pengendalian penuh terhadap semua aspek serangan dan pertahanan, jadi sebuah pembelaan diri yang efektif dapat dilakukan tanpa menimbulkan cedera serius pada si penyerang. Dengan kata lain, aikido mengatakan bahwa kamu harus dan wajib membela dirimu sendiri.

Bayangkan suatu hari seorang anak laki-laki SMA yang belajar beladiri keras (misalnya taekwondo atau karate) harus menghadapi situasi yang berat, ia sedang berjalan sendirian dan bertemu dengan dua anak seumuran dengannya dan mereka memaksa untuk minta uang. Anak itu pikir dia bisa menghadapi dua orang itu dengan kemampuannya. Mereka pun berkelahi, tak tahu bagian mana yang kena tendang, mana yang kena pukul. Akhirnya dia menang dan pulang dengan kepala tegak. Belasan tahun kemudian si anak yang sudah menjadi seorang ayah berjalan dengan keluarganya di pusat perbelanjaan. Ia bertemu dengan laki-laki yang tak asing baginya. Mereka saling berpandangan dan kemudian baru ingat kalau mereka pernah berkelahi saat SMA dulu. Mencoba untuk berdamai dengan masa lalu mereka pun bersalaman dan saling menyapa. Si pemenang bertanya, "Gimana kabarmu? Sekarang sudah punya anak juga?" Dengan wajah sedih mantan preman itu jawab, "Oh nggak, aku nggak bisa punya anak, dokter bilang benturan keras di alat kelaminku buat aku jadi mandul."

Bum!
Bagaimana bila Anda sendiri yang mengalami hal itu? Entah jadi si pemenang atau si mantan preman sepertinya sama saja payahnya sekarang. Keduanya sama-sama menyesali yang pernah terjadi saat masa lalu itu. Kekerasan, apapun bentuknya, membawa akibat yang buruk! Kuncinya adalah: Stop Kekerasan, kecuali di rumah tangga, sebab memang ada hal yang harus mempertahankan kekerasan. Kalau nggak keras nggak bisa kerja. Tentu semua yang sudah kepala dua ngerti hal itu. Hahaha.

Jadi, inilah jalan yang kupilih untuk membantuku dalam hidup yang lebih selaras. Bila aku mampu untuk selaras dengan energi dalam tubuhku sendiri, mungkin aku bisa lebih menyelaraskan diri dengan energi dari luar. Alam sekitar, tanaman, hewan, dan semua orang yang kutemui. Bila keselarasan terjadi, selanjutnya yang muncul adalah keindahan dan kebaikan. Oh iya, kalau benar, dalam bahasa Jepang kata "Ai" juga berarti cinta.

Gumun...

Dalam bahasa Jawa ada sebuah kata yang bunyinya "gumun", kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia ya artinya jadi "heran". Suatu hari, yang tidak kuingat lagi hari apa itu, temanku mengatakan padaku, "Kowe iki kok gumunan tho?" yang artinya kurang lebih "Kamu ini kok suka keheranan sih?" Aku belum menemukan terjemahan bahasa Indonesia yang lebih tepat dari 'suka keheranan' sampai saat ini. Bila diterjemahkan jadi bahasa Inggris mungkin artinya jadi "wonderous". Dia mengatakan begitu karena aku sering menyatakan keheranan terhadap banyak hal-hal kecil yang tidak diperhatikan oleh teman-teman. Misalnya aku mengamati lift yang ada tombol untuk bicara dengan operator, kemudian kubilang "Wah, keren banget ya! Gimana ya koq bisa gini?"

Apa yang salah dengan sikap gumunan, sehingga aku dikomentari demikian oleh temanku? Suka tertarik dengan hal-hal baru dan menarik itu kan wajar. Setiap orang punya rasa ingin tahu dan selalu ingin tahu terhadap hal-hal yang belum pernah dikenalnya. Jadi aku nggak salah kan. Atau mungkin yang dianggap salah itu sebenarnya caraku menyampaikannya yang terlalu berlebihan? Wah, itu mungkin saja. Tapi aku nggak pernah tanya ama temenku mengapa dia bilang seperti itu. Paling baik aku anggap saja kalau sebenernya temenku itu gumun padaku karena aku gumunan… kesimpulannya: sebenarnya semua orang di dunia ini memiliki sifat gumunan. Bener kan?

Melanjutkan cerita tentang gumun. Tadi sore aku pergi ke Carrefour, swalayan milik Prancis yang sangat berjaya di Yogyakarta sekarang ini. Tempatnya di Ambarukmo Plasa sangat luas, barang-barangnya banyak dan lengkap. Harganya ada yang mahal dan ada yang murah, seperti umumnya pasar. Uniknya hampir tiap kali aku pergi ke sana aku gumun. Bagaimana manajemen pasar modern seperti itu ya? Barang segar seperti daging, ikan, dan sayuran, dari produsen lokal maupun impor ada di sana. Tadi diumumkan wortel dan anggur impor baru saja datang dan baru dibuka. Aku tertarik banget dengan manajemen barang hasil pertanian dan pangan itu. Gimana ya caranya tahu lika-liku penanganan bahan tanpa harus bekerja di sana? Hahaha.

Begitu dulu deh, ntar yang baca tambah gumun...