Terima kasih pada Thomas Alfa Edison, penemu filamen untuk lampu yang tahan lama pada 1879. Lampu jenis ini disebut incandescent, memendarkan warna kuning dari gas argon (atau gas lain) yang ada di dalamnya. Desain lampu jenis ini tidak banyak berubah dibandingkan saat pertama kali ditemukan. Meski tak selalu berbentuk bola, kita di Indonesia sering menyebutnya bohlam… :)
Ada jenis lampu lain yang disebut fluoroscent, memendarkan warna putih. Lampu ini hemat energi, butuh listrik sedikit untuk menghasilkan intensitas cahaya yang sama dengan lampu incandescent. Namun ada kekurangannya, lampu fluoroscent mengandung merkuri yang berbahaya bagi manusia.
Aku merasa ada perbedaan soal lampu saat pertama kali datang di Swedia. Sebagian besar lampu yang mereka gunakan di sini adalah lampu incandescent! Hampir tiap ruangan di dalam rumah maupun di kampus memakai lampu bercahaya kuning itu. Jarang kutemui lampu ‘neon’ seperti di Indonesia di dalam rumah. Lampu putih dipakai di tempat khusus seperti laboratorium atau pusat perbelanjaan.
Rasa penasaran itu buat aku mencari tahu, ada apa di balik kisah si bola lampu? Selidik punya selidik, aku mendapat beberapa informasi yang cukup memuaskan rasa ingin tahuku. Ini dia.
Sebagian besar listrik yang masuk ke lampu ‘kuning’ berubah jadi panas.
Hampir sepanjang tahun suhu udara Swedia dingin, terlebih di musim dingin! Lampu ini ternyata punya peran ganda, sebagai penerang dan penghangat ruangan.
Banyak orang merasa warna kuning lebih ‘hangat’ dan buat suasana jadi nyaman. Pun dia bebas dari kedip-kedip (blinks) yang sering ada pada lampu ‘putih’. Ternyata, lampu incandescent ini dipakai karena alasan estetika, psikologis, dan juga fisiologis.
Swedia punya kecukupan pasokan energi listrik.
Mereka tak akan kekurangan listrik hanya karena semua orang menggunakan lampu jenis ini. Namun, bagaimanapun, masyarakat Eropa dan seluruh dunia kini dianjurkan menghemat energi lewat mengganti lampu mereka.
Lampu ‘kuning’ ini tak mengandung merkuri.
Resikonya relatif lebih kecil dari lampu fluoroscent. Namun, masih ada logam berat yang dapat mencemari lingkungan dalam lampu ini.
Di samping beberapa informasi tersebut masih ada cerita menarik tentang perlampuan. Kita harus bayar lebih mahal saat membeli sebuah lampu di Swedia. Mengapa? Seorang teman menjelaskan bahwa kita juga harus membayar biaya penanganan dan daur ulang lampu tersebut! Tempat pembuangan lampu yang sudah rusak pun terpisah. Pihak yang bertanggung jawab untuk menangani limbah lampu-lampu itu adalah produsennya sendiri, dan konsumen membayar biaya operasional mereka.
Bagaimana dengan limbah lampu di Indonesia? Aku rasa hingga kini lampu bekas belum ditangani dengan baik. Padahal sebagian besar lampu di kota adalah lampu fluoroscent yang mengandung merkuri. Saat lampu itu pecah di tempat yang tidak seharusnya, logam-logam berat di dalamnya bisa masuk ke air tanah. Hal ini tentu dapat membahayakan kesehatan manusia di sekitarnya. Mungkin ini dapat dijadikan topik penelitian bagi teman-teman atau adik tingkat yang tertarik?
Sumber foto lampu fluoroscent: http://en.wikipedia.org/wiki/File:Energiesparlampe_01_retouched.jpg
Sebagian besar listrik yang masuk ke lampu ‘kuning’ berubah jadi panas. 




